Archives

gravatar

Sahabat Sejati

Oleh : A. Irawan    

     Kehidupan manusia sebagai mahluk sosial, tidak terlepas dan tak akan pernah terlepas dari faktor lingkungan di sekitarnya. Manusia tidak mungkin hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Satu dengan lainnya akan sangat saling membutuhkan, sehingga adanya lingkungan yang baik merupakan suatu anugerah yang istimewa dalam hidup kita. Dengan keberadaan lingkungan yang sehat dan baik, tentunya akan membuat kita merasa nyaman tinggal di lingkungan tersebut.

     Dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di lingkungan masyarakat, tempat kerja, sekolah atau dimana pun kita berada, alangkah beruntungnya bila kita menemukan dan mendapatkan sahabat sejati. Dengan adanya sahabat sejati, hidup kita terasa lebih bermakna dan menjadikannya sebagai motivasi untuk terus menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Untuk mendapatkan sahabat sejati ini terkadang tidaklah mudah, dan hal itu tentunya memerlukan waktu dan proses.

     Sahabat sejati merupakan ikatan pertemanan yang didasari oleh ikatan batin diantara keduanya. Persahabatan sejati sangat dipengaruhi oleh faktor ketulusan, kecintaan, kasih sayang, pengorbanan, pengertian dan saling memotivasi. Jika faktor-faktor itu telah dimiliki oleh teman kita termasuk diri kita, maka persahabatan sejati pun akan terbentuk dengan sendirinya. Tanpa faktor-faktor di atas, mustahil sebuah persahabatan sejati akan terbina. Jika kita ingin mempunyai sahabat sejati, maka terlebih dahulu diri kita sendiri harus mempunyai jiwa seperti yang disebutkan di atas.

     Ketika diri kita bersedih, sahabat sejati akan berusaha menghibur diri kita. Ketika diri kita ditimpa kesulitan, sahabat sejati akan berusaha membantu meringankan kesulitan kita. Ketika kita memerlukan bantuan seorang teman, sahabat sejati akan membantu dengan ketulusan dan pengorbanannya. Ketika diri kita ada kesalahan dan kehilafan, sahabat sejati akan berusaha mengingatkan diri kita. Begitupun sebaliknya, jika teman kita sedang ditimpa kesulitan dan kesusahan, diri kita pun berusaha untuk membantu meringankan beban mereka dan melakukan apapun yang bisa kita lakukan untuknya.

     Selain faktor-faktor di atas, ada faktor penting yang harus dijaga keberadaannya yaitu kejujuran dan saling menjaga kepercayaan. Kejujuran dan saling menjaga kepercayaan merupakan faktor yang wajib dimiliki bila kita ingin menjalin persahabatan yang sejati. Jika kejujuran dan kepercayaan telah ternoda, maka jangan harap persahabatan yang abadi akan terbina. Kejujuran dan kepercayaan merupakan unsur persahabatan yang lahir dari hati nurani yang paling dalam. Kesucian akan kejujuran dan kepercayaan haruslah tetap terjaga dan jangan mencoba merusaknya dengan sebuah keburukan jiwa dan nafsu, karena jika sudah rusak akan sulit mengembalikan seperti semula.

     Setiap manusia berharap memiliki sahabat sejati dalam mengarungi hidupnya. Keberadaan sahabat sejati ini sangat penting keberadannya sebagai motivator hidup dan tempat mencurahkan isi hati dan perasaan jiwa. Terkadang jika kita memiliki masalah baik itu masalah berat maupun ringan, dan kita bisa berbicara dengan sahabat sejati kita, seolah-olah permasalahan itu sedikit demi sedikit sirna. Mungkin hal itu sebagai dampak psikologis atas keberadaan seorang sahabat sejati di tengah-tengah kehidupan kita.

     Persahabatan yang dilandasi perasaan cinta dan kasih sayang, kejujuran dan kepercayaan, pengertian, ketulusan serta kedekatan jiwa, akan menjadikannya pertemanan yang abadi sampai kapan pun dan dimana pun kita berada. Persahabatan sejati tidak akan terpisah oleh waktu dan tempat. Kita sering mendengar dan melihat berbagai kisah persahabatan sampai usia renta, hal itu tentunya jika memiliki unsur-unsur persahabatan seperti di atas. Semoga kita pun mendapatkan sahabat sejati yang akan terus menjalin pertemanan sampai akhir hayat kita.
  
  
»»  READMORE...
gravatar

Kunci Keberhasilanmu adalah Berbakti pada Orangtua (Bagian II)

Oleh : A. Irawan

3. Keridhaan Allah adalah keridhaan orangtua

     Allah menganjurkan kita agar menghormati dan berbakti pada orangtua. Mereka yang tidak menghormati dan berbakti pada orangtua, cepat atau lambat akan mengalami kesulitan dan kesusahan hidup yang tak pernah mereka bayangkan. Lalu apakah hubungannya orangtua dan keberhasilan? Dan mengapa orangtua menjadi kunci keberhasilan kita? Bukankah keberhasilan seseorang ditentukan oleh diri kita sendiri?

     Ketahuilah wahai saudaraku! Begitu tingginya derajat orangtua sehingga menjadikan orangtua sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kita. Susah senangnya kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor bakti kita pada orangtua. Sebagai seorang anak, maka kewajiban kita adalah berbakti pada orangtua dan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Menjaga hati dan perasaan orangtua adalah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan oleh seorang anak. Begitu besar perjuangan orangtua terhadap kehidupan anaknya. Mereka membesarkan kita dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Mereka mendidik kita agar kelak menjadi orang yang berguna bagi sesama, berguna buat bangsa dan negara terlebih agama.

     Ridhanya Allah adalah ridhanya orangtua, murkanya Allah adalah murkanya orangtua, sakitnya Allah adalah sakitnya orangtua. Poin penting inilah yang akan kita renungkan dan hayati bersama dalam menyingkap rahasia di balik keberhasilan seseorang. Banyak orang yang menyepelekan akan hal ini, tapi banyak pula yang menjadikan orangtua sebagai suatu faktor penting dalam hidupnya, dan merekalah orang-orang yang selamat yang akan menemui kebahagiaan hakiki. Mereka adalah orang-orang yang akan mendapatkan nikmat dan karunia-Nya dikarenakan mereka telah berbakti dan memperlakukan orangtua dengan sebaik-baiknya.

     Seseorang yang beriman dan bertakwa tetapi tidak menghormati dan berbakti pada orang tua, maka sesungguhnya mereka tidaklah sempurna keimanannya. Ketika seorang anak yang mulai tumbuh dewasa memiliki cita-cita dan keinginan terhadap sesuatu, maka hendaknya mereka mendatangi orangtua terlebih dahulu, jika orangtua ridha maka Allah pun ridha. Sungguh tiada berguna bila mereka taat beribadah tetapi durhaka pada orangtua. Begitu mulianya kedudukan orangtua pada pandangan Allah, sehingga Allah selalu mengingatkan kita agar senantiasa berbakti kepada orangtua.

Hubungan orangtua dan keberhasilan seseorang

     Mereka telah berjuang keras demi cita-cita dan keinginannya, demi kesuksesan dan keberhasilannya, demi kebahagiaan dan ketenangan hidupnya, akan tetapi mereka belum juga mendapatkan apa yang mereka impikan dan harapkan. Sesungguhnya mereka telah lalai dan lupa terhadap orangtua mereka sendiri. Tidaklah cukup mereka berdo’a kepada Sang Khalik bila mereka tidak memohon keridhaan dan do’a kepada orangtuanya. Tidaklah cukup bagi mereka taat beribadah bila mereka masih mendurhakai orangtua. Tidaklah cukup bagi mereka bekerja dan berjuang keras apabila mereka tidak memperlakukan orangtua dengan sebaik-baiknya. Dan pada akhirnya Allah pun berkehendak lain terhadap apa yang mereka inginkan.

     Pertama, seorang anak hendaknya mengasihi dan menyayangi orangtuanya dengan keikhlasan, maka Allah pun akan menyayangi dan mengasihi diri kita. Jika kita tetap memelihara diri kita untuk selalu berbakti dan berbuat baik pada orangtua, niscaya kita akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Sang Khalik. Semua urusan kita akan dimudahkan-Nya, semua kesulitan kita akan diringankan-Nya, dan bila Dia berkehendak tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Tetapi jika mereka masih durhaka pada orangtua, niscaya mereka akan selalu ditimpa kesulitan sehingga semua cita-cita dan keinginannya akan tertunda.

     Kedua, hendaknya seorang anak yang mengalami kesulitan dalam menggapai cita-cita dan harapannya, segeralah bertaubat kepada Allah dan mohon ridha serta ampunan dari orangtuanya. Sungguh celaka seorang anak yang masih suka menyakiti orangtua, masih suka membentak dan meremehkan orangtua bahkan menganggap tidak berguna orangtuanya. Maka disadari atau pun tidak disadari, sesungguhnya durhakanya mereka pada orangtua akan menghambat segala cita-cita dan keinginannya.

     Ketiga, Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tidak mungkin keputusan-Nya merugikan mahluk-Nya, tidak mungkin Tuhan membiarkan hamba-hambaNya menderita dan sengsara. Semuanya adalah yang terbaik di sisi Allah. Mereka yang merasa cita-cita dan keinginannya belum juga terwujud, hendaknya mereka instropeksi diri, sudah sejauh manakah mereka berbakti pada orangtuanya? Sudah sejauh manakah mereka memperlakukan orangtuanya dengan baik?

     Keempat,   kita harus senantiasa berbaik sangka terhadap apapun keputusan Tuhan terhadap diri kita. Bisa jadi tertundanya segala cita-cita dan keinginan kita adalah sebagai ujian terhadap diri kita, bahkan sebagai peringatan bagi kita untuk senantiasa  instropeksi diri. Bagi mereka yang kurang peka terhadap pentingnya peranan orangtua dalam menuju kesuksesan kita, mereka akan selalu mengalami kesulitan dan kesusahan selama belum memperhatikan orangtuanya.

     Kelima, kita meyakini bahwa segala do’a kita pada hakikatnya akan Tuhan kabulkan. Terkabulnya do’a pun memerlukan syarat-syarat yang perlu diperhatikan. Salah satu syarat utama adalah tidak melakukan dosa terhadap orangtua. Ketika sebagian orang berdoa dan memohon kepada Sang Khalik, dengan segala kerendahan hatinya, dengan segala kekhusu’annya, dengan tangisan dan linangan air matanya, namun apa yang mereka inginkan masih belum juga terkabul. Kita mengetahui bahwasannya Allah tidak akan pernah ingkar janji. Mereka berdoa dan seharusnyalah terkabul. Lalu apakah yang menghalangi semuanya?

     Ketika seseorang berdoa untuk kesuksesan dan keberhasilannya, Tuhan mendengarnya, dan Tuhan pun berkehendak untuk memberikan karunia-Nya pada mereka. Namun dosa-dosa mereka terhadap orangtua, kedurhakaan mereka terhadap orangtua,  menjadikannya sebagai hijab atau penghalang diturunkannya nikmat dan karunia tersebut. Mana mungkin ketika orangtua merasa sedih dan terluka akibat ulah diri kita, Tuhan akan menyayangi diri kita dan mengabulkan doa kita, kalaupun terkabul semuanya semata-mata karena kehendak-Nya dan kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi ke depannya.

     Maka jika seseorang yang merasa tertunda bahkan sulit menggapai cita-cita dan harapannya. Cobalah untuk menghilangkan hijab atau penghalang itu dengan memohon ampunan dan keridhoan orangtua. Ketika orangtua merasa ridha, ketika orangtua mengampuni dengan tulus dosa-dosa seorang anaknya, ketika orangtua tidak merasa sakit hati dan terluka karena diri kita. Yakinlah bahwa ketika tidak ada lagi penghalang (dosa-dosa) antara anak dan kedua orangtuanya, apa yang mereka cita-citakan dan impikan akan segera terwujud.

     Beberapa uraian diatas hanyalah gambaran betapa pentingnya faktor orangtua sebagai kunci keberhasilan dan kesuksesan seseorang. Semoga kita termasuk anak yang berbakti pada orangtua, semoga kita bisa memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya, semoga kita semua menjadi hamba-hamba pilihan-Nya dan semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung, Amin.
»»  READMORE...
gravatar

Kunci Keberhasilanmu adalah Berbakti pada Orangtua (Bagian I)

Oleh : A. Irawan

     Dikala mereka menginginkan sesuatu, mereka mendekatkan diri kepada-Nya dengan berdoa dan terus memohon agar dikabulkan segala cita-cita dan keinginannya. Begitu besar harapan dan keinginannya agar mereka menjadi orang yang mampu meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam hidupnya. Dan mereka pun senantiasa berdo’a :

“Ya… Allah, ampunilah semua dosa dan kesalahanku, kabulkanlah segala do’a dan permintaanku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

“Ya…  Tuhanku, kabulkanlah segala cita-cita dan keinginan hamba-Mu ini, agar hamba menjadi orang yang mampu meraih kesuksesan dan keberhasilan, agar hamba mendapatkan kemudahan dalam setiap langkah hamba. Ya… Tuhanku, berikanlah hamba kebahagiaan dunia dan akhirat. Jauhkanlah hamba dari segala kesulitan dan kesusahan hidup.”


     Begitulah kira-kira gambaran sederhana seorang manusia yang memohon pada Sang Khalik dalam setiap do’anya. Setiap saat mereka berdo’a, setiap waktu meraka memohon, terus dan terus berdo’a tiada henti dan tak pernah berputus asa. Semua perintah mereka jalankan, semua larangan mereka tinggalkan, demi mengharap cita-cita dan keinginannya terkabul. Mereka ingin sukses dalam kehidupan dunia, mereka ingin menjadi orang yang berhasil dalam karirnya, mereka ingin mendapatkan kemudahan dalam segala urusannya dan mereka menginginkan kebahagiaan dalam diri dan keluarganya.

     Mereka telah berusaha secara lahir batin demi cita-cita dan keberhasilannya. Secara batiniah mereka termasuk orang yang gigih dan tak pernah berputus asa dalam berdo’a, mereka termasuk orang yang senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Secara lahiriah mereka belajar dengan tekunnya, mereka bekerja dengan kerasnya, mereka terus dan terus berjuang demi keberhasilannya tanpa mengenal lelah.

     Hingga satu waktu, mereka pun merasa lelah setelah sekian lama berjuang, mereka merasa kecewa karena permintaannya belum juga dikabulkan, mereka bahkan berputus asa karena menganggap usahanya telah sia-sia. Perjuangannya tidaklah menghasilkan apa-apa, bahkan terasa semakin sulit dan tiada jalan keluarnya. Mereka pun selalu bertanya pada dirinya mengapa bisa terjadi seperti ini, mereka pun selalu mengeluh akan kehampaan hidupnya, dan dalam keadaan hati yang hancur mereka pun mengadukan kembali kegelisahan hidupnya pada Sang Khalik. Dan mereka pun berdo’a :

“Ya…  Allah, mengapa Engkau tidak mengabulkan permintaanku? Mengapa hidupku selalu menderita dan kesusahan? Apakah Engkau sudah tidak mengasihaniku lagi? Apakah yang salah dalam diriku? Bukankah hamba selalu taat menjalankan segala perintah-Mu dan menjauhi segala larangan-Mu?”

“Ya… Tuhanku, setiap saat hamba berdo’a, setiap waktu hamba memohon, kapanpun dan dimanapun hamba selalu meminta kepada-Mu, tapi mengapa Engkau tidak mengabulkan permintaanku? Mengapa Engkau tidak mendengar do’aku? Mengapa semua keinginanku tidak ada yang Engkau penuhi? Apakah salah dan dosaku?”

     Mereka selalu bertanya pada dirinya sendiri apa yang membuat doa’nya belum juga terkabul. Mereka selalu berpikir gerangan apa di balik semuanya. Hingga pada akhirnya kebingungan menyelimuti hati dan pikiran mereka. Mereka pun tidak mampu untuk menjawab rahasia di balik keberhasilan yang tak kunjung datang menghampirinya.

     Marilah kita renungkan hati kita sejenak untuk menghayati dan mengungkap rahasia di balik semuanya. Sesungguhnya semua permasalahan yang datang pasti ada jalan keluarnya, maka permasalahan di atas pun tentunya ada cara untuk mengatasinya.

     Sesunguhnya kita selaku orang beriman percaya dan mengakui akan kekuasaan Tuhan. Apapun yang terjadi, sesungguhnya itu sudah menjadi kehendak-Nya dan apapun yang menimpa diri kita, sesungguhnya itu adalah yang terbaik bagi kita. Akan tetapi kita selaku manusia dengan segala kekurangan dan keterbatasannnya, terkadang sulit untuk menyikapi apakah sesuatu itu terbaik bagi kita atau buruk buat diri kita. Untuk permasalahan ini ada beberapa poin penting yang harus kita renungkan dan pikirkan, diantaranya :

1. Allah Maha Mengasihi dan Menyayangi Hamba-Nya

     Dalam Al-Qur’an yang menjadi landasan berpijak dan melangkah bagi kaum muslimin, Allah berulang-ulang menyatakan bahwa Dia adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Dia mengasihi dan menyayangi setiap hamba-hambanya yang beriman dan selalu mendekatkan diri pada-Nya. Lalu mengapa hamba-hambaNya yang berdo’a dan memohon kepada-Nya belum juga dikabulkan? Bagaimana dengan mereka yang beriman dan bertakwa yang setiap saat dan waktu berdo’a atas cita-cita dan keinginannya, namun belum juga terwujud? Bukankah Allah Maha Pengasih dan Penyayang?

     Disinilah kekuasaan-Nya berlaku atas mahluk-Nya. Sesungguhnya Dia mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya dan apa-apa yang akan menjadi keburukan bagi diri hamba-hambaNya. Bisa jadi hal itu sesungguhnya yang terbaik bagi mereka namun ada sesuatu hal yang mereka lupakan dan lalaikan. Sehingga cita-cita dan keinginan mereka untuk meraih keberhasilan tertahan atau tertunda. Lalu, gerangan apakah yang membuat cita-cita dan keinginan mereka tertahan bahkan tertolak? Mari kita hayati dan renungkan!

2. Allah mengabulkan setiap do’a hamba-Nya

     Janji Allah dalam salah satu Ayat Al-Qur’an : “Berdo’alah kepadaku, niscaya Aku kabulkan permohonanmu.” Ayat tersebut merupakan janji Allah yang pasti, bahwa Allah akan mengabulkan setiap permohonan hamba-hambaNya yang meminta kepada-Nya. Dan tidak ada satu janji pun yang Allah ingkari. Allah akan menepati janji-Nya dan atas do’a-do’a mereka ada yang dikabulkan di dunia dan ada pula yang dikabulkan di akhirat, ada yang cepat dan ada pula yang lambat. Untuk permintaan di akhirat, sudah jelas di dunia ini tidak akan mendapatkannya, karena dunia dan akhirat adalah sesuatu yang berbeda.

     Lalu bagaimanakah dengan do’a-do’a mereka pada saat meminta untuk menjadi orang yang berhasil dalam kehidupannya? Bagaimanakah dengan mereka yang memohon dikabulkannya cita-cita dan harapan hidupnya namun tak kunjung datang? Mengapa do’a mereka tertahan padahal mereka termasuk orang yang beriman dan bertakwa? Apakah yang membuat semua keinginannya tertahan atau tertunda? Marilah kita untuk terus menghayati dan merenungkan gerangan apakah di balik tertahannya segala cita-cita dan keinginan mereka?

Bersambung…….
»»  READMORE...
gravatar

Menyingkap Ungkapan “Pengalaman adalah guru terbaik”

Oleh : A. Irawan

KANDUNGAN MAKNA DALAM UNGKAPAN

     Seringkali kita mendengar ungkapan “Pengalaman adalah guru terbaik”, bahkan mungkin ungkapan ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mayoritas masyarakat di lingkungan kita hampir sama dalam memaknai ungkapan tersebut. Secara umum makna dari “Pengalaman adalah guru terbaik” yaitu suatu kejadian atau peristiwa yang menimpa perjalanan hidup kita pada masa yang telah lewat baik  peristiwa menyenangkan maupun tidak menyenangkan, kemudian atas kejadian atau peristiwa tersebut kita jadikan sebagai suatu pelajaran, peringatan dan motivasi  yang berharga dalam menyikapi dan menentukan langkah  perjalanan hidup berikutnya.

     Pada dasarnya, kejadian atau peristiwa  menyenangkan dan tidak menyenangkan adalah sebagai suatu akibat dari apa yang telah kita usahakan dan perjuangkan sebelumnya. Bila kita mengusahakannya dengan cara yang salah, tanpa perencanaan matang dan pertimbangan cermat, maka kita akan menuai hasil atau kenyataan yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Begitupun sebaliknya, bila kita mengusahakannya dengan cara yang benar, perencanaan matang dan pertimbangan yang cermat, maka kita tinggal menunggu sesuatu yang menyenangkan itu datang pada diri kita.

PENGALAMAN DALAM DUA MAKNA

     Bagi penulis, “Pengalaman adalah guru terbaik” memiliki dua makna. Pengertian ini didasarkan pada apa yang terkandung dalam kata “pengalaman” itu sendiri. Kata “pengalaman” dapat diartikan sebagai bagian dari kejadian atau peristiwa dalam perjalanan hidup  yang terjadi pada waktu yang telah lewat. Yang perlu digarisbawahi adalah apakah pengalaman itu merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang menimpa diri sendiri atau orang lain? Berdasarkan pertanyaan ini, maka ungkapan “Pengalaman adalah guru terbaik” memiliki dua makna jika ditinjau dari segi orang yang tertimpa yaitu berdasarkan pengalaman diri sendiri dan pengalaman orang lain.

a. Pengalaman diri sendiri adalah guru terbaik

     Ungkapan “Pengalaman diri sendiri adalah guru terbaik” dapat diartikan sebagai kejadian atau peristiwa yang terjadi pada waktu yang telah lewat yang menimpa diri kita sendiri dan tidak menimpa orang lain, kemudian dari peristiwa atau kejadian itu kita jadikan sebagai pelajaran atau peringatan menuju langkah perjalanan hidup berikutnya.

     Dalam memaknai ungkapan ini,  sudah jelas bahwa kejadian menyenangkan dan tidak menyenangkan itu memang terjadi pada diri kita sendiri bukan atas kejadian atau peristiwa yang menimpa orang lain dan hanya diri kita yang merasakan dan diri kita sendiri yang menanggung akibatnya.

     Mengacu pada ungkapan diatas, kejadian atau peristiwa tidak menyenangkan itu akan menjadi dasar kita untuk mengambil hikmah bahwa kita harus berhati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, merencanakan dengan matang sebelum jauh melangkah dan mempertimbangkan kembali secara cermat. Tanpa perencanaan dan pertimbangan dalam menentukan langkah hidup, maka kemungkinan besar kita akan terjerumus pada kehidupan yang tidak menyenangkan dan keterpurukan. Sedangkan atas kejadian atau peristiwa yang menyenangkan, maka kita akan mengambil hikmah untuk selalu dan terus mengikuti langkah-langkah yang kita ambil sebelum kehidupan yang menyenangkan datang menimpa kita.

     Dari uraian diatas, dapat penulis gambarkan bahwa kita belajar memaknai hidup dengan mempelajari dan mengambil hikmah dari kejadian atau peristiwa yang menimpa diri kita sendiri. Bila yang menimpa itu sesuatu yang menyenangkan, maka hal itu tidaklah masalah karena telah sesuai dengan apa yang kita harapkan sebelumnya. Akan tetapi bila yang menimpa diri kita adalah sesuatu yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan, maka hal itu akan selalu tertanam dalam benak kita sepanjang kita belum bisa melepaskannya.

b. Pengalaman orang lain adalah guru terbaik

     Dalam menyingkap makna “Pengalaman orang lain adalah guru terbaik” maka pikiran yang ada dalam benak kita adalah kita melihat, mendengar dan berusaha semampu kita untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Sudah jelas bahwa pengertian dari ungkapan “Pengalaman orang lain adalah guru terbaik” yaitu suatu kejadian atau peristiwa yang telah menimpa orang lain kemudian kita belajar dari pengalaman tersebut sebagai bekal kita dalam mengarungi perjalanan hidup kita sendiri. Dengan kata lain, kejadian atau peristiwa itu sama sekali belum menimpa diri kita dan kita sama sekali belum merasakannya.

     Seperti telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya, bila yang menimpa itu adalah sesuatu yang menyenangkan maka hal itu tidak akan menjadikan masalah bagi kita melainkan hanya sebagai motivasi dan pelajaran bagaimana caranya kita dapat menggapai harapan diri kita sendiri dengan belajar dari pengalaman orang lain.

     Lain halnya bila yang menimpa itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, maka keberuntungan kita yaitu dapat belajar dari pengalaman orang lain sebelum sesuatu yang tidak menyenangkan itu menimpa diri kita. Dengan demikian kita akan selalu hati-hati dan waspada dalam menyikapi dan mengambil langkah kita selanjutnya. Kita akan selalu berusaha untuk melakukan persiapan dan perencanaan yang lebih baik agar terhindar dari rasa sakit dan keterpurukan.

MANA YANG TERBAIK DARI KEDUANYA ?

     Bila kita harus memilih ungkapan mana yang sebaiknya kita ambil dalam menentukan prinsip hidup kita? Sepintas pertanyaan ini mungkin mudah, tapi dalam prakteknya mungkin akan tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Poin dari pertanyaan ini sebenarnya akan lebih dominan pada sesuatu yang tidak menyenangkan, karena untuk sesuatu yang menyenangkan kita hanya tinggal belajar dari diri kita sendiri dan melihat perjalanan orang lain kemudian memahami dan mempraktekkannya dalam perjalanan berikutnya. Berbeda dengan sesuatu yang menyenangkan, dalam hal sesuatu yang menimpa hidup kita itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, menyedihkan bahkan menyakitkan, maka kita akan dihadapkan pada efek fisik dan psikis yang membahayakan.

     Dibawah ini merupakan gambaran dari pilihan, bila kita harus memilih salah satu dari ungkapan diatas. Gambaran ini hanya penegasan atas kejadian atau peristiwa yang tidak menyenangkan saja.
  • Bila kita memilih “Pengalaman diri sendiri adalah guru yang terbaik” maka berarti kita mempelajari setiap langkah yang telah kita lakukan, mengingatnya dalam pikiran kita dan mempraktekkanya kembali dalam langkah selanjutnya. Bila sesuatu yang tidak menyenangkan itu menimpa diri kita, maka kita akan belajar bagaimana caranya agar tidak menimpa untuk kedua kalinya. Pengalaman ini sudah jelas kita sendiri yang mengalaminya, kita sendiri yang merasakan sakitnya dan kita sendiri yang menanggung akibatnya. Kita baru belajar setelah kajadian itu secara nyata menimpa diri kita. Apakah kita tidak memiliki potensi untuk menghindarkan diri kita dari sesuatu yang tidak menyenangkan dengan melihat pengalaman orang lain ? Bukankah manusia telah dianugerahi kelebihan pikiran untuk membaca lingkungan di sekitar kita? Apakah kita akan membiarkan diri kita tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan setelah semuanya terjadi pada orang lain? Semuanya adalah tergantung kita memilih prinsip hidup kita terutama dalam menyikapi makna “Pengalaman adalah guru yang terbaik”.
  • Bila kita memilih “Pengalaman orang lain adalah guru terbaik” maka berarti kita membaca, mempelajari dan berpikir atas kejadian atau peristiwa yang menimpa orang lain dan menjadikannya sebagai pengingat agar sesuatu yang tidak menyenangkan itu tidak menimpa diri kita. Adalah suatu keuntungan bila kita dapat belajar dari pengalaman orang lain, karena menjadikan kita akan lebih hati-hati dan cermat dalam mengambil langkah hidup kita. Kita bisa belajar dari orang-orang yang telah sukses dan menemukan kedamaian hidupnya, tetapi kita juga bisa belajar agar terhindar dari keterpurukan seperti yang telah lebih dulu menimpa orang lain. Bila kita telah belajar dari keberhasilan seseorang, bukankah itu adalah suatu keuntungan besar buat kita? Bila kita telah belajar dari seseorang yang telah tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan, bukankah itu suatu pelajaran berharga agar kita terhindar dari keburukan itu? Apakah kita masih akan membiarkan diri kita tertimpa sesuatu yang tidak menyenangkan setelah orang lain merasakan betapa sakit dan sedihnya? Maka, belajarlah dari pengalaman orang lain sebelum sesuatu yang tidak menyenangkan menimpa diri kita.
      Dari gambaran diatas, tentunya kita bisa menentukan prinsip hidup yang manakah yang akan kita ambil. Penulis tidak akan mengarahkan pada pilihan tertentu, karena semuanya tergantung pada diri Anda masing-masing. Lain orang maka lain pula cara berpikir dan mengambil keputusannya. Semuanya tergantung pada hati nurani dan akal pikiran Anda.

     Kedua ungkapan tersebut pada dasarnya tidak bisa dipisahkan, mengapa? karena keduanya mungkin bisa terjadi dalam hidup kita, seperti halnya kebaikan dan keburukan yang selalu silih berganti menimpa setiap manusia. Hanya saja manusia dengan segala kelebihan yang telah dianugerahkan, bisa menentukan mana yang terbaik diantara yang baik. Bukankah hidup ini adalah pilihan?

     Semoga kita senantiasa terhindar dari sesuatu yang tidak menyenangkan dan keburukan yang tidak diinginkan. Dan tetap bersabar jika memang keburukan itu menimpa diri kita terlebih dahulu. Prinsip hidup kita akan menentukan kondisi harapan kita pada masa yang akan datang. Berusahalah terhindar dari sesuatu yang tidak menyenangkan dengan belajar mengkaji dari pengalaman orang lain.
»»  READMORE...
gravatar

Arti Sebuah Penghargaan

Oleh : A. Irawan

     Ketika berbagai permasalahan menimpa kita, kita akan berusaha untuk mengatasi permasalahan itu dengan bersusah payah. Ketika bencana menerpa kita, kita pun akan melepaskan diri dari kesusahan yang berkepanjangan. Andai kita bisa memilih hanya pada sisi kebaikan, maka kita tentunya ingin hidup selamanya berada dalam kesenangan. Bila jiwa dan raga bisa bicara, tentunya ia akan memilih untuk bahagia dunia dan akhirat.

     Di balik semua permasalahan hidup, sebagian orang menginginkan sebuah penghargaan. Penghargaan yang didambakan dan impikan adalah sebagai wujud dari kepribadian diri kita sendiri. Ketika penghargaan belum datang, mereka mencari sensasi demi ketenaran dan popularitas. Dan ketika penghargaan datang, mereka dengan angkuhnya bahwa ia telah mendapatkan penghargaan atas jerih payah dan usahanya. Adalah hal yang manusiawi jika manusia butuh penghargaan, karena manusia mempunyai nafsu. Tapi apakah kita akan menjadi budak nafsu selamanya?

     Setiap manusia memang mendambakan penghargaan. Penghargaan disini tentunya memiliki makna yang luas dan dalam. Kita merasa perlu adanya penghargaan karena kita mempunyai nafsu, jika tidak ada nafsu maka keinginan akan sebuah penghargaan pun tidak ada. Berbagai macam penghargaan tentunya akan dikondisikan dengan keadaan tertentu pula. Disini penulis akan memaparkan sebagian kecil dari bentuk penghargaan.

1. Penghargaan atas harga diri manusia

     Sejak manusia dilahirkan tentunya membawa harga diri dan martabat masing-masing sebagai fitrah manusia itu sendiri. Kita tidak ingin harga diri kita diinjak-injak orang lain. Siapapun pasti tidak ingin harga dirinya disepelekan, dipermainkan bahkan menjadi bulan-bulanan orang lain. Bagi yang suka merendahkan harga diri orang lain, pada hakikatnya mereka menginjak-injak harga dirinya sendiri. Bagaimana mungkin kalau mereka merasa punya harga diri tapi tidak merasakan sakitnya bila harga diri direndahkan. Untuk kriteria penghargaan ini, kita bisa menerimanya karena manusia terlahir dengan membawa harkat dan martabatnya masing-masing. Bahkan untuk kriteria penghargaan ini, negara bahkan dunia pun sudah mensosialisasikan pentingnya menjaga harkat dan martabat manusia, yang sekarang kita kenal sebagai Hak Asasi Manusia (HAM).

2. Penghargaan atas hasil karya

     Makna yang terkandung dalam penghargaan atas hasil karya orang lain, bisa penghargaan secara fisik dan non fisik. Penghargaan secara fisik diberikan pada orang-orang yang telah berkarya berupa piagam, plakat, uang, beasiswa ataupun yang lainnya.  Sedangkan secara non fisik adalah bagaimana sikap kita mengakui bahwa hal tersebut adalah hasil karya orang lain dengan tidak menduplikatnya, tidak mencontek persis atas sebuah hasil karya serta tidak mempublikasikan hasil karya orang lain dengan mengatasnamakan diri sendiri. Adalah sesuatu yang wajar bila manusia menginginkan hasil karyanya dihargai orang lain. Akan tetapi bagaiamana dengan manusia yang semata-mata memburu sebuah penghargaan fisik untuk mencari ketenaran belaka? Bagaimana dengan mereka yang mencari siasat membuat hasil karya hanya untuk kesombongan dan keangkuhan?

3. Penghargaan atas suatu jasa

     Mereka yang telah berjasa dalam hidupnya dan dapat menghasilkan suatu perubahan yang berarti bagi orang lain, tentunya orang pun akan dengan sendirinya menghargai jasa mereka tanpa mereka minta dan mohon. Lihatlah mereka-mereka yang telah berjasa dalam hidupnya baik dalam bidang ilmu pengetahuan, sosial, teknologi, pengabdian terhadap bangsa dan negara terutama para pahlawan dan pejuang bangsa, juga jasa-jasa dalam bentuk lainnya. Mereka tiada, tapi nama mereka tetap bersinar dan selalu dikenang. Mereka memang pantas mendapatkannya, karena mereka telah mengabdikan hidupnya demi orang lain.
Dari uraian jenis penghargaan diatas yang merupakan pokok dari semua jenis penghargaan yang tidak disebutkan penulis satu persatu dalam catatan ini, merupakan renungan bagi kita untuk mengkaji lebih dalam tentang arti sebuah penghargaan.

     Penghargaan pada dasarnya bukan sebagai akhir cerita dari sebuah perjalanan hidup. Penghargaan hanyalah sebagai simbol bahwa kita telah berbuat sesuatu yang lebih baik dan menjadikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Penghargaan hanyalah sebagai sarana untuk memotivasi diri agar di hari berikutnya bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Penghargaan dapat mengingatkan orang untuk senantiasa menghargai orang lain dalam bentuk apapun.

     Dampak baik bagi sebuah penghargaan seperti yang disebutkan diatas, akan berbeda bagi orang yang menganggap penghargaan adalah sebagai suatu bentuk kebarhasilan dan akhir dari suatu cerita. Mereka merasa hal itu adalah sesuatu yang pantas ia terima karena jerih payah dan usahanya. Sehingga mereka merasa dirinya sajalah yang bisa berbuat seperti itu. Akhirnya ia terlena dan tertidur nyenyak tanpa mempedulikan orang lain. Dan pada akhirnya tidak tertutup kemungkinan ia akan berdiri dengan kesombongan dan keangkuhannya. Harkat dan martabatnya lenyap, rasa kepedulian terhadap sesama sirna dan di ujung perjalanan hidupnya ia mati membawa kesombongan dan keangkuhannya.
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang sombong karena keberhasilan kita dan dapat menghargai orang lain dengan ketulusan dan kebesaran jiwa.
»»  READMORE...
gravatar

Sesungguhnya Sesudah Kesulitan Ada Kemudahan

Oleh : A. Irawan    

     Begitu indahnya Allah ciptakan segala sesuatu di muka bumi ini dalam keadaan berpasang-pasangan. Sudah menjadi ketentuan-Nya bahwa apapun yang ada di sekitar kita memiliki pasangan kata, makna, rasa dan zat. Dunia akhirat, surga neraka, pria wanita, siang malam, susah senang, baik buruk, pahit manis, berat ringan, keras lunak dan banyak lagi contoh lainnya yang memang pada dasarnya selalu akan berpasang-pasangan. Bacalah apa yang ada dalam tubuh kita, mata yang berpasangan, telinga yang berpasangan, tangan dan kaki yang berpasangan dan semuanya akan serba berpasangan. Bagi seseorang yang tidak memiliki pasangan anggota tubuhnya (maaf : cacat) baik karena bawaan sejak lahir, kecelakaan ataupun sebab lainnya, semoga mereka diberikan kesabaran dan tetap optimis menjalani hidup. Apapun yang menimpa diri kita, itulah yang terbaik di sisi Allah dah hanya Allah-lah yang Maha Mengetahuinya.

     Ketika kita berada di dunia maka tidak lama lagi kita akan berada di akhirat, ketika kita berada di waktu siang maka kita akan segera menemui malam, ketika kita merasakan manis maka pahit pun akan kita jumpai, ketika kita membawa sesuatu yang berat maka suatu saat kita akan membawa yang ringan pula dan begitulah seterusnya tentang makna berpasang-pasangan. Begitu indah terdengar bila sepasang kata dan makna dipadukan, tapi mungkin akan membuat hati kita bergetar dan ketakutan bila hal itu menimpa diri kita terutama pada kondisi yang tidak kita inginkan.

     Ada hal menarik yang perlu kita pikirkan dan renungkan lebih dalam ketika memaknai bahtera hidup ini. Sepasang kata dan ungkapan yang indah, belum tentu menjadikan diri kita siap untuk menerimanya. Dan ungkapan itu adalah “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”. Siapa yang tak kenal ungkapan ini? Siapa yang tak paham prinsip hidup ini? Dan siapa pula yang mengingkari bahwa hal ini adalah kenyataan yang ada dalam hidup kita? Semuanya akan menjawab : ” Saya mengenalnya, saya memahaminya dan saya tahu bahwa itu adalah prinsip hidup yang selalu saya pegang sejak lama.”

     Mari kita berpikir sejenak dan merenungkan tentang makna terdalam yang ada dalam ungkapan “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”. Ketika Allah mentakdirkan segala sesuatunya dengan berpasang-pasangan, pastilah Allah telah memperingatkan kita dengan ayat-ayatnya. Bukti bahwa Allah telah memperingatkan kita adalah dengan wahyu-Nya “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah : 6). Dan masih banyak lagi peringatan-peringatan yang telah Allah berikan pada kita.

     Kembali pada ungkapan tersebut, bagi sebagian orang, tapi mudah-mudahan tidak termasuk Anda, terkadang sulit untuk menerima kenyataan itu. Mereka mengerti makna ungkapan tersebut, tapi tidak dibuktikan dengan perilaku pada saat menimpa dirinya. Mereka sebenarnya menyadari bahwa ia sedang berada pada kondisi salah satunya entah kesulitan atau kemudaha. Pada saat mereka berada dalam kondisi kesulitan, mereka lupa bahwa kemudahan akan datang. Dan sebaliknya, jika kondisi mereka sedang berada dalam kemudahan, ia lupa bahwa sebentar lagi kesulitan pun akan menghampirinya.

     Pada saat kesulitan hidup datang, mereka lupa bahwa hidupnya sedang dalam ujian dan cobaan bahkan peringatan. Mereka mengeluh dan menangis, mereka tidak terima dan berontak, mereka lari dan berputus asa. Mereka menyalahkan diri mereka sendiri dan mengkambing hitamkan orang lain, mereka mencaci diri sendiri dan memaki siapa saja. Dan mereka pun sampai pada titik terlemahnya iman seseorang dengan mengatakan bahwa : ” Tuhan tidak adil, Tuhan tidak mengasihaniku, mengapa aku ditimpa kesulitan dan kesusahan seperti ini?” Sampai sejauh manakah respon kita dalam menyikapi kesulitan yang datang? Sampai dimanakah keikhlasan kita pada saat kesulitan menimpa kita? Sampai sejauh manakah kita mengambil hikmah dari kesulitan yang melanda diri kita? Sekali lagi, ungkapan itu begitu indah, begitu menggetarkan hati, tapi dalam kenyataannya tidak semudah seperti yang kita bayangkan.

     Begitu beratnya diri kita untuk menerima kenyataaan itu dengan ketulusan dan begitu bodohnya diri kita bila mengakui bahwa itu adalah prinsip hidup kita tapi tidak memaknai bahwa semuanya itu adalah suatu ujian, pelajaran, motivasi dan penambah kepekaan hati kita terhadap kesulitan yang orang lain rasakan. Jika ingin kesulitan kita berkurang bahkan sirna, maka belajarlah untuk bisa mengurangi kesulitan orang lain, dan Allah pun akan menghapuskan kesulitan kita. Bukankah setiap penyakit ada obatnya? Bukankah setiap permasalahan ada jalan keluarnya? Bergembiralah dan yakinkanlah dalam benak dan hati kita yang paling dalam bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan menerpa akan ada kemudahan yang menghampiri. Janganlah berputus asa karena masih banyak dari mereka yang ditimpa kesulitan jauh melebihi kesulitan yang kita alami! Berbahagialah dan teruslah berharap kemudahan dan kebahagiaan menyelimuti hidup kita wahai saudaraku!

     Tidak bisa dipungkiri bahwa siapapun pasti mendambakan hidupnya selalu dalam kemudahan. Bagi mereka yang pada saat ditimpa kesulitan tetap tabah, ikhlas dan tulus sepenuh hati serta selalu menganggapnya sebagai pelajaran, peringatan juga motivasi hidupnya, maka sesungguhnya mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda bila kemudahan telah datang menghampirinya. Seakan-akan dalam hidupnya mereka tidak pernah terjadi kesulitan, melainkan hanya ujian yang dinikmati dan dilanjutkan dengan kemudahan yang sesungguhnya. Bisa jadi mereka berkata: “Aku tidak pernah mengalami kesulitan, karena aku ikhlas menerimanya. Aku tidak pernah merasakan kesusahan, karena aku tulus menjalaninya. Aku tidak pernah mengeluh karena aku tetap tegar menguasai jiwaku. Aku tidak pernah merasakan penderitaan, karena aku sedang berusaha untuk menjadi dewasa. Aku tidak pernah menangis, karena aku tidak berputus asa.” Maka berbahagialah mereka yang selalu menganggap segala kesulitan dan kesusahan adalah awal dari kemudahan. Mereka beruntung karena memiliki jiwa yang kuat dan tetap menjadi dirinya sendiri.

     Dan ujian pun akan muncul kembali pada saat kemudahan kita nikmati. Dikala kemudahan menghampiri kita, kita sadar bahwa kemudahan telah tiba. Hidup kita terasa lapang dan semuanya serba terang seakan tak ada penghalang. Kebutuhan ekonomi terpenuhi setiap hari, pekerjaan tetap lancar setiap saat, karir terus menanjak seiring waktu, penghargaan pun bermunculan dimana-mana, usahapun kian melambung dan melonjak tajam. Hidupnya benar-benar diselimuti dengan kemudahan dan kesenangan. Seolah-olah kemudahan itu tak mau beranjak dari diri kita walau sedetik pun. Akhirnya mereka berada dalam kesenangan dunia yang seakan-akan tak pernah putus dan tidak akan pernah mengalami kesulitan dan kesusahan.

     Sungguh ironis bila kenyataan hidup seperti itu tidak dibarengi dengan pondasi jiwa yang kuat, ilmu yang memadai dan iman yang menjadi tameng. Ketika mereka berada dalam puncak kesenangan hidupnya, mereka sedikit lalai bahkan mulai pudar prinsip yang ia pegang. Dia merasa hidupnya sudah mapan dan tak ada sesuatu pun yang bisa membuatnya menderita. Keangkuhannya, kesombongannya, kecongkakannya ternyata membuka pintu hidupnya kembali pada tahta terendah dalam hidupnya. Mereka lupa dan tidak pernah memikirkan bahwa setelah ada turunan curam, maka mereka akan berhadapan dengan tanjakan terjal. Ketika diumpamakan dengan sebuah mobil, pada saat menemui turunan maka mobil harus direm dan pada saat mendapatkan tanjakan mobil pun harus digas. Rem adalah pengendali agar tidak terperosok dan gas adalah motivator agar cepat berada dalam harapan dan keinginan.

     Kehidupan yang serba mudah akan dengan cepat berbalik arah menuju kesusahan dan keterpurukan. Mereka yang tidak siap menghadapi ke fase berikutnya terutama berhadapan dengan kesulitan hidup, maka mereka akan mengalami stress yang berkepanjangan bahkan gangguan jiwa. Semuanya karena mereka tidak mempersiapkan jiwa dan pikirannya dengan keikhlasan dan tidak pernah belajar dan mengambil hikmah pada saat kesulitan datang menghampirinya. Wahai saudaraku, manfaatkanlah pada masa kesulitan dan kesusahan itu sebagai ujian, pelajaran, motivasi dan hikmah yang berharga dalam rangka pendewasaan diri. Bergembiralah karena sesudah kesulitan pasti ada kemudahan !

     Pada akhir tulisan ini, penulis hanya ingin mengingatkan khususnya pada diri penulis sendiri dan umumnya bagi mereka yang membaca tulisan ini. Kita harus sabar, ikhlas, besar hati dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa kita. Bukankah kesulitan itu merupakan awal menuju kemudahan? Bukankah kehidupan kita ini selalu berpasang-pasangan? Hari ini kita susah, tapi yakinlah cepat atau lambat kemudahan akan menghampiri kita. Dan jika sekarang kita sedang merasa ada dalam kemudahan, bersiap-siaplah dengan kesulitan yang segera mendekat. Perkuat jiwa kita agar kita mampu menikmati segala liku-liku perjalan hidup! Semoga engkau menjadi orang yang beruntung wahai saudaraku!
»»  READMORE...
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Pengikut Setia

Counter Powered by  RedCounter
Powered by  MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by  Bots Visit
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
free hit counter
visitors by country counter
free counters